Dari luar, pembeda versi 2.5 dan 2.0 hanyalah pada side body moulding di bawah pintu samping dan pelek alloy lebih kecil 1 inci. Masuk ke dalam, bangkunya masih menggunakan bahan fabric. Pengatur jok elektris masih disematkan sehingga memudahkan ketika mencari posisi mengemudi paling pas.
Di dasbor, pembeda lainnya adalah tidak digunakannya pengatur AC climate dan hilangnya panel bermotif serat karbon. Dari kemudi, cruise control tidak lagi mendampingi pengatur audio dan menu MID di sisi kiri setir.
Selebihnya sama. Termasuk desain panel instrumen yang modern dan informatif. Tak ketinggalan pula Around View Monitor. Pembuka bagasi elektris juga masih ada, serta ada mode ECO untuk mengemudi ekonomis. Asyiknya, cup holder di konsol tengah memiliki kisi pendingin.
Senjata andalah 2 kursi paling belakang juga masih disematkan. Terlepas kurang mewah tanpa balutan jok kulit, namun kami melihat sajian kabin versi 2.0 ini sudah memadai untuk sebuah city cruiser.
X-Trail memakai mesin serupa milik Serena, yakni unit berkode MR20DD 1.997 cc 4-silinder dengan sistem injeksi BBM langsung dan dual katup variabel. Meski tenaganya sama dengan 147 dk, tapi X-Trail mengailnya di putaran lebih tinggi 400 rpm, yaitu 6.000 rpm. Sedangkan torsinya sama, yaitu 206 Nm pada 4.400 rpm.
Memang, Serena dan X-Trail tidak bisa dibandingkan head to head. Tapi sebagai gambaran, X-Trail 2.0 butuh waktu 11,7 detik untuk menuntaskan sprint 0-100 km/jam. Sedangkan Serena hanya 11,4 detik. Jauh dari X-Trail 2.5 yang menyentuh 9,5 detik.
Bicara karakter berkendara, semuanya mirip. Sudah menjadi cirikhas transmisi CVT, cukup sulit menggali tenaga saat start. Lebih terasa ketika mode ECO diaktifkan. Mendekati putaran mesin 2.000 rpm barulah pengemudi merasakan nikmatnya tenaga yang tersalurkan.
Nah, di putaran menengah, tenaganya terasa lebih berisi. Ia lebih mudah diajak overtaking. Kami melihat Nissan lebih mengutamakan kehalusan berkendara ketimbang performa. Setir ringan memudahkan saat manuver di kecepatan rendah tapi mengurangi rasa ketika kecepatan tinggi. Sedikit catatan pada sistem suspensi.
X-Trail 2.0 CVT sanggup mencetak 9,8 km/l, hanya kalah 0,2 km/l dari X-Trail 2.5 dengan tenaga lebih besar di dalam kota. Bahkan lebih baik dari Serena 2.0 yang hanya 9,2 km/l. Ketika di jalan tol ia mampu mencatat konsumsi BBM 15,7 km/l. Sebagai catatan, X-Trail 2.5 meraih 16,5 km/l dan Serena hanya 14,6 km/l.
Menarik menelaah putaran mesin masing-masing model saat cruising di 100 km/jam. X-Trail 2.5 paling rendah dengan 1.600 rpm, diikuti oleh X-Trail 2.0 dengan 1.800 rpm, dan Serena dengan 2.000 rpm. Hal itu menegaskan figur yang berhasil diraih. Terlepas pelek Serena hanya 16 inci.
Fitur keselamatan tipe 2.0 tidak ada yang dikurangi dari tipe 2.5. Dipadu karakter transmisi CVT yang santun, keliaran potensi tenaganya seperti dijaga agar tidak sampai keluar sepenuhnya. Memang lebih aman, tapi terasa kurang natural dan di bawah ekspektasi kami. Selain itu, saat mobil terantuk lubang atau mengenai tonjolan seperti polisi tidur di kecepatan lebih tinggi dari sewajarnya, timbul bunyi tumbukan yang cukup mengganggu.
Namun dari segi pemakai, value yang ditawarkan oleh X-Trail 2.0 CVT sangatlah menggoda. Hanya sedikit dikurangi fitur kenyamanan, tapi masih dengan fitur keselamatan lengkap. Memang kalah tenaga dari versi 2.5, tapi untuk sebuah penjelajah kota ia sudah lebih dari cukup. Sayang harganya sudah menyentuh Rp 413 juta.



No comments:
Post a Comment